Hari ini aku ketemu sama anak-anak tingkat SMA yang beda dengan jaman aku dulu. Dulu aku yang kuper bagai katak dalam tempurung (padahal sekarang juga masih, Cuma nggak mau ngakuin). Bagaimana tidak? Mereka jauh-jauh menempuh jarak ± 12km (jarak yang nggak biasa buat mereka, maklum cah ndeso) hanya untuk tugas bikin email (klu aku mah boro-boro…..)
Tapi sayang seribu sayang (bacanya pake irama ya) sampai di sono warnetnya tutup. Aku lihat wajah kecewa mereka, aku perhatikan raut bingung mereka, wajah yang takut gak naik kelas klu gak ngerjain ni tugas.
Butuh banyak waktu untuk berdiskusi, akhirnya kelompok pecah jadi dua:
1. Pergi ke warnet yang buka, meski harus menempuh jarak lebih jauh lagi, lebih banyak makan bensin, tapi inilah tugas, butuh pengorbanan.
2. Terpaksa pulang, karena ijin ortu cuma sampai baureno doang. Satu pernyataan yang masih melekat indah di ingatanku, entah dari mana asal suara itu, “Nggak masalah nggak naik kelas dari pada ke sumberejo tapi gak dapet ijin ortu” aku kagum pada yang ngucapin ini, sebuah prinsip yang oks banget!
Dan aku pergi bersama 6 yang lain ke sumberrejo, 4 anak kupastikan sudah dapet ijin dari ortu tapi yang dua aku nggak tau.
Sesampainya di sumberejo, ditelpon sama anak yang pulang duluan ngabarin kalo di skul pak guru marah2 karena mereka belum dapet ijin dari skul. Aduh, kelihatannya mereka terpukul, mereka baru sadar ada satu hal penting yang terlupakan (atau sengaja dilupakan, aku positive thinking ajah), aku perhatikan lagi wajah mereka: ragu dan takut bercampur dengan aura yang tak begitu jelas. Yang kurasakan jantung mereka nggak berfungsi sebagaimana mestinya kali ini.
Niat sudah dijalankan sampai di sini, sudah mencapai puncak tapi harus turun membawa beban yang lebih berat dari pada saat mendaki. Ah, apakah ini arti dari sebuah tugas?
Tugas dari guru, ijin dari ortu yang mengharuskan sebagian dari mereka berpisah dengan sebagian yang lain, sebagian harus berhenti di tengah jalan dan kembali dengan rasa kecewa, gak dapet apa2 kecuali murka dari sang komandan dan juga uang bensin yang dibebankan pada ortu tumpah sia-sia. Ah, apakah ini arti dari sebuah tugas?
Di sisi lain, sebagian yang telah terlalu jauh mendaki dan berhasil laksanakan tugas (kalo boleh dikatakan begitu), malam ini masih sesak dada karena sadar perjalanan ini hanyalah sebuah kesalahan besar yang mungkin tak kan pernah terampuni, Masih was-was apakah yang akan terjadi besok, apakah amarah komandan akan berkobar lebih besar lagi? Ah, mereka hanya bisa mengira-ngira saja. Inikah arti dari sebuah tugas?
Sementara semua tentara mengira satu kalimat yang terlontar dari komando sang komandan adalah bentuk lain dari kata “ijin” dan ternyata mereka salah sangka. Ah, arti dari tugas ini adalah salah paham (mungkin).
Jelas, komandan dan tentara2nya(meski nggak semua) keduanya merasa nggak adil. Sementara aku? Bukan komandan ataupun tentara, terlibat dan sedikit banyak menanggung beban ini.