Xsyan’s Weblog

Juni 1, 2008

Oh. Ortu Maap.

Diarsipkan di bawah: The Other Side — xsyan @ 9:22 pm

Ngomong2 soal ijin ke ortu, q juga sering loh nggak ijin (jangan baca pake’ nada bangga), emang salah sih tapi masih juga kulakukan, salah satunya masalah yang mo ku ceritain kali ini.

Pernah ijin ortu klu ku mau kuliah, tapi nggak diijinin atas alasan biaya, kalu pun dapat ijin mungkin harus menunggu sampai waktu yang tidak ditentukan.

Aku nekat beli motor butut (juga nggak ijin) sebagian pake’ uang temen, tapi setelah ortu tau, mungkin juga pas mereka lagi seneng, aku dikasih uang untuk dikembalikan ke temen aku, terang aja ku malah lebih seneng.

Bekal motor ntu, nekat cari kampus yang ngajarin apa yang jadi minat aku, ketemu, langsung daftar (juga nggak ijin) sampai rumah baru kasih tau klu abis daftar sekaligus bayar uang pendaftaran kuliah.

Ah, akhirnyo, aku kuliah juga, meski belum tau akhirnya gimana, bisa sampai lulus ato nggak, setidaknya aku pernah ngrasain tujuanku tercapai, tanpa beban, karena akhirnya ortuku setuju juga dan dukung. Yeach……

Aku Pernah Jadi Murid

Diarsipkan di bawah: Pendidikan — Tag: — xsyan @ 9:21 pm

Aku. Tak pernah jadi guru, jadi nggak pernah bisa mahami perasaan guru. Aku pernah jadi murid, mungkin aku tau perasaanku dan murid2 lain. Jadi maap pak/ibu guru saat ini aku sedang bahas perasaanku.

Dulu, waktu masih skul, jujur aja nggak semua guru aku sukai (hihi… jadi malu) tapi dikalangan kami ini wajar, kira2 apa yang menyebabkan sebagian guru disukai dan sebagian lagi nggak? Jawabnya pasti udah pade tau, jadi nggak usah di bahas lagi.

Mungkin mengajar adalah hal mudah bagi seorang guru, tapi mendidik lain ceritanya. Menurut aku mendidik adalah bagimana mencipta karakter (definisinya ngarang). Sudah jadi rahasia umum Guru adalah seorang teladan yang digugu lan ditiru, sadar ato nggak, karakter guru akan membekas pada siswa (yach, setidaknya itu yang aku rasain).

Ketika seorang murid diajar oleh guru yang suka senyum dan meyenangkan, wuich damainya hati ini, juga bakal lebih mudah untuk memahami pelajaran yang disampaikan. Bahkan sampai tua pun akan ingat kalo guru yang satu ini selalu buat hati sejuk segar, secara nggak sadar meneteskan air mata haru dan berucap do’a yang baik2 (yang ini cerita kakekku). Hayo pak guru pengin gak yang kaya’ gini? Didoain sama murid2 yang bejibun jumlahnya sape yang nggak mao? Gila kale????

Tapi mungkin akan beda critanya kalo sang guru suka marah-marah. Bagaimana dengan muridnya? Kata orang: guru marah berdiri, murid marah berlari (eh, salah ya? Sengaja). Emang selalu ada alasan yang jelas buat guru marah-marah, tapi bukankah masih ada banyak cara membuat siswa sadar atas kesalahan-kesalahannya tanpa perlu marah-marah.

Pasti tau kan bagaimana nabi kita mewanti-wanti: jangan marah, jangan marah, jangan marah. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya. Ya gitu deh kira-kira.

Jadi inget betapa dulu aku sering buat guru uring-uringan gara-gara nggak ngerjain tugas (klu ini mah kesalahan yang tak terampuni, aku sadar itu). tapi pecaya deh, saat ini, seiring waktu berjalan, aku masih suka lupa do’ain guru yang pernah marahin aku. Bukan dendam ato semacamnya, tapi emang gitu kenyataannya.

Arti Sebuah Tugas

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Tag: — xsyan @ 9:19 pm

Hari ini aku ketemu sama anak-anak tingkat SMA yang beda dengan jaman aku dulu. Dulu aku yang kuper bagai katak dalam tempurung (padahal sekarang juga masih, Cuma nggak mau ngakuin). Bagaimana tidak? Mereka jauh-jauh menempuh jarak ± 12km (jarak yang nggak biasa buat mereka, maklum cah ndeso) hanya untuk tugas bikin email (klu aku mah boro-boro…..)

Tapi sayang seribu sayang (bacanya pake irama ya) sampai di sono warnetnya tutup. Aku lihat wajah kecewa mereka, aku perhatikan raut bingung mereka, wajah yang takut gak naik kelas klu gak ngerjain ni tugas.

Butuh banyak waktu untuk berdiskusi, akhirnya kelompok pecah jadi dua:

1. Pergi ke warnet yang buka, meski harus menempuh jarak lebih jauh lagi, lebih banyak makan bensin, tapi inilah tugas, butuh pengorbanan.

2. Terpaksa pulang, karena ijin ortu cuma sampai baureno doang. Satu pernyataan yang masih melekat indah di ingatanku, entah dari mana asal suara itu, “Nggak masalah nggak naik kelas dari pada ke sumberejo tapi gak dapet ijin ortu” aku kagum pada yang ngucapin ini, sebuah prinsip yang oks banget!

Dan aku pergi bersama 6 yang lain ke sumberrejo, 4 anak kupastikan sudah dapet ijin dari ortu tapi yang dua aku nggak tau.

Sesampainya di sumberejo, ditelpon sama anak yang pulang duluan ngabarin kalo di skul pak guru marah2 karena mereka belum dapet ijin dari skul. Aduh, kelihatannya mereka terpukul, mereka baru sadar ada satu hal penting yang terlupakan (atau sengaja dilupakan, aku positive thinking ajah), aku perhatikan lagi wajah mereka: ragu dan takut bercampur dengan aura yang tak begitu jelas. Yang kurasakan jantung mereka nggak berfungsi sebagaimana mestinya kali ini.

Niat sudah dijalankan sampai di sini, sudah mencapai puncak tapi harus turun membawa beban yang lebih berat dari pada saat mendaki. Ah, apakah ini arti dari sebuah tugas?

Tugas dari guru, ijin dari ortu yang mengharuskan sebagian dari mereka berpisah dengan sebagian yang lain, sebagian harus berhenti di tengah jalan dan kembali dengan rasa kecewa, gak dapet apa2 kecuali murka dari sang komandan dan juga uang bensin yang dibebankan pada ortu tumpah sia-sia. Ah, apakah ini arti dari sebuah tugas?

Di sisi lain, sebagian yang telah terlalu jauh mendaki dan berhasil laksanakan tugas (kalo boleh dikatakan begitu), malam ini masih sesak dada karena sadar perjalanan ini hanyalah sebuah kesalahan besar yang mungkin tak kan pernah terampuni, Masih was-was apakah yang akan terjadi besok, apakah amarah komandan akan berkobar lebih besar lagi? Ah, mereka hanya bisa mengira-ngira saja. Inikah arti dari sebuah tugas?

Sementara semua tentara mengira satu kalimat yang terlontar dari komando sang komandan adalah bentuk lain dari kata “ijin” dan ternyata mereka salah sangka. Ah, arti dari tugas ini adalah salah paham (mungkin).

Jelas, komandan dan tentara2nya(meski nggak semua) keduanya merasa nggak adil. Sementara aku? Bukan komandan ataupun tentara, terlibat dan sedikit banyak menanggung beban ini.

Mei 27, 2008

Si bodoh

Diarsipkan di bawah: Poetry — Tag: — xsyan @ 3:05 pm

Atas dasar apa ku merindukanmu?

Aku yang bodoh masih tak mengerti

Haruskah kutepikan rindu ini

Rasa ini tak kah perlu dipertanyakan?

Jika rindu ini karena cinta,

Jika cinta ini adalah penyakit

Maka aku orang bodoh yang tak mau disembuhkan

Ah, betapa bodohnya aku

Sementar rindu ini semakin membebani hati

Tak adakah yang bisa meringankan?

Aduh, betapa bodohnya

Bukankah rindu ini tak beralasan?

Tapi…

Aku bingung,

Tak tau hakikat cinta dan rindu

Ia racun atau obatkah?

Ia mengisi hati atau yang menghampakannya?

Si bodoh tak mengerti

Terlalu Dalam untuk Sembuh

Diarsipkan di bawah: Poetry — Tag: — xsyan @ 1:18 pm

Pernah kudengar “beberapa luka terlalu dalam untuk disembuhkan”

Kuharap seumur hidup aku hanya akan mendengarnya

Tapi ternyata harapanku tak bisa diharapkan

Kini serasa aku t’lah mengalami sendiri

Entah bagaimana nasib perasaanku

Menyadari bahwa luka ini tak ‘kan pernah sembuh

Luka ini akan tetap menjadi bagian dari diriku

Tak hilang juga tak ‘kan membekas

Bahwa luka ini tetap menjadi luka yang tak mengering

Ah, betapa…

Aku menyerah

Aku berhenti mencari obat luka

Lalu berpaling, untuk mencari obat sakit

Kau tau apa yang kupikirkan?

Jika di dunia ini ada rasa sakit yang tak berluka

Maka pastilah ada luka yang tak terasa sakit

Dan dari dua hal tersebut aku lebih suka yang kedua

Aku dan hatiku t’lah memutuskan

Bahwa kami boleh terluka (jika diperlukan)

Tapi tak boleh merasakan sakit

Lalu satu pertanyaan muncul : mungkinkah?

Dan akan terjawab saat aku berhasil membuktikannya

Mudahkah?

Diarsipkan di bawah: Poetry — Tag: — xsyan @ 1:17 pm

Saat sehat,

Mudah untuk menyadari bahwa “Sehat memang lebih baik”

Saat sakit,

Mudahkah untuk menyadari bahwa “Sakit memang lebih baik”?

Saat kaya,

Mudah untuk menyadari bahwa “Kaya memang lebih baik”

Saat miskin,

Mudahkah untuk menyadari bahwa “Miskin memang lebih baik”?

Saat kuat,

Mudah untuk menyadari bahwa “Kuat memang lebih baik”

Saat lemah,

Mudahkah untuk menyadari bahwa “lemah memang lebih baik”?

Saat lapang,

Mudah untuk menyadari bahwa “Lapang memang lebih baik”

Saat sempit,

Mudahkah untuk menyadari bahwa “Sempit memang lebih baik”?

Yach…

Terlalu mudah menerima hal yang kita harapkan menjadi nyata

Tapi butuh paksaan tuk menerima kenyataan yang tak sesuai harapan

Syukur itu perlu, bahkan penting

Agar rasa sakit ini tak terasa lebih menyakitkan dari kenyataannya

Bukan Luka, Tapi…

Diarsipkan di bawah: Poetry — Tag: — xsyan @ 1:16 pm

Kebencian bukan luka, tapi rasa sakit

Penyesalan bukan luka, tapi rasa sakit

Iri hati bukan luka, tapi rasa sakit

Dendam bukan luka, tapi rasa sakit

Saat jemariku tergores

Itu luka, terasa sakit dan perih

Rasa sakit itu akan sembuh seiring sembuhnya luka

Saat benci, sesal, iri dan dendam selimuti hati

Itu sakit tapi tak berluka

Lebih sulit bagiku tuk sembuhkan sakit ini

Mungkin karena lukanya tak teraba oleh indera

Karena itu pula mungkin

Aku harus menjaga hatiku

Karena sekali saja hati merasa sakit akan susah disembuhkan

Sementara begitu banyak orang disekitarku

Yang disengaja atau tidak akan menyakiti

Tak mungkin kukasih tau pada semuanya:

“Jangan sakiti aku!”, ini tak mungkin

Sementara hatiku cuma satu

Begitu banyak yang mungkin menyakitinya

Yang bisa kulakukan adalah memberitahu hati:

“Jangan mudah tersakiti!”, ini lebih memungkinkan

Sementara

Cinta bukan obat, tapi mampu menyembuhkan

Ikhlas bukan obat, tapi mampu menyembuhkan

Memaafkan bukan obat, tapi mampu menyembuhkan

Sabar bukan obat, tapi mampu menyembuhkan

Mungkin obat hanya berguna untuk menyembuhkan

Tapi keempat sifat ini tak hanya berfungsi sebagai obat

Ia akan setia melindungi dan menghiasi hati

Setangkai Tanpa Bunga

Diarsipkan di bawah: Poetry — Tag: — xsyan @ 1:14 pm

Sebuah kenyataan bahwa mawar tak selamanya mekar

Ada masa di mana hanya setangkai tanpa bunga di ujungnya

Merasa tak ada keindahan yang melekat pada

Berharap seseorang ‘kan memungut

Tapi tak seorang bodoh pun yang sudi

Ah, betapa kini ia pahami

Lebih baik dibenci dari pada diabaikan

Setangkai merasa tak berguna

Setangkai mengharap ada yang rela menginjaknya

Sekedar untuk menggores luka di sebagiannya

Setangkai hati, kini mengharap luka saat kehampaan melanda

Setangkai bermimpi

Lebih baik sakit dari pada tak dapat merasa

Di luar sana

Sebegitu banyak yang menganggap sakit adalah rasa yang paling menyiksa

Sementara di sini,

Setangkai lebih tersiksa karena tak bisa merasakan apapun

Meski hanya sekedar rasa sakit yang menusuk tulang rusuk

Game Over

Diarsipkan di bawah: Poetry — Tag: — xsyan @ 1:12 pm

Wah, game over

Permainan berakhir,

Sejak kau putuskan tuk meninggalkanku

Ah, sebenarnya tidak

Sebenarnya aku yang t’lah meninggalkanmu

Sendiri merasa rapuh di bawah hujan

Sementara aku t’lah patah

Sebagianku kau bawa

Separuhnya lagi tersisa dalam jiwa

Sebagianku pulang, sebagian lagi merapuh bersamamu

Hingga saat ku kembali menemui

Hilangmu tak berjejak

Kucari bersama angin

Bersama mencipta ombak tapi tak menemukanmu

Di lelah terakhirku

Masih sanggu berharap

Bahwa kau datang bersama sebagian jiwaku

Di kedipan terakhirku

Masih sanggup berharap

Bahwa kau datang meski tanpa sebagianku kau bawa

Dan di nafas terakhirku

Tak sanggup berharap

Bahwa Game Over

He…he…he…heran

Diarsipkan di bawah: Poetry — Tag: — xsyan @ 1:05 pm

He…he…he…heran

Banyak orang mengira kita hidup di dunia yang berbeda

Tapi tetep bisa bersama

He…he…he…heran

Bisa dikata

Andai kau Juliet maka akulah Gatut Kaca

He…he…he…heran

Lepas dari semua itu

Tak peduli orang berkata

Tak peduli apa dan siapa diriku

Jelaslah bahwa engkaulah Aisyahku

Tulisan sebelumnya

Blog pada WordPress.com.