be U’r Self

Tak seorang pun bisa seperti dirimu

Aku Pernah Jadi Murid Juni 1, 2008

Diarsipkan di bawah: Pendidikan — xsyan @ 9:21 pm
Tags:

Aku. Tak pernah jadi guru, jadi nggak pernah bisa mahami perasaan guru. Aku pernah jadi murid, mungkin aku tau perasaanku dan murid2 lain. Jadi maap pak/ibu guru saat ini aku sedang bahas perasaanku.

Dulu, waktu masih skul, jujur aja nggak semua guru aku sukai (hihi… jadi malu) tapi dikalangan kami ini wajar, kira2 apa yang menyebabkan sebagian guru disukai dan sebagian lagi nggak? Jawabnya pasti udah pade tau, jadi nggak usah di bahas lagi.

Mungkin mengajar adalah hal mudah bagi seorang guru, tapi mendidik lain ceritanya. Menurut aku mendidik adalah bagimana mencipta karakter (definisinya ngarang). Sudah jadi rahasia umum Guru adalah seorang teladan yang digugu lan ditiru, sadar ato nggak, karakter guru akan membekas pada siswa (yach, setidaknya itu yang aku rasain).

Ketika seorang murid diajar oleh guru yang suka senyum dan meyenangkan, wuich damainya hati ini, juga bakal lebih mudah untuk memahami pelajaran yang disampaikan. Bahkan sampai tua pun akan ingat kalo guru yang satu ini selalu buat hati sejuk segar, secara nggak sadar meneteskan air mata haru dan berucap do’a yang baik2 (yang ini cerita kakekku). Hayo pak guru pengin gak yang kaya’ gini? Didoain sama murid2 yang bejibun jumlahnya sape yang nggak mao? Gila kale????

Tapi mungkin akan beda critanya kalo sang guru suka marah-marah. Bagaimana dengan muridnya? Kata orang: guru marah berdiri, murid marah berlari (eh, salah ya? Sengaja). Emang selalu ada alasan yang jelas buat guru marah-marah, tapi bukankah masih ada banyak cara membuat siswa sadar atas kesalahan-kesalahannya tanpa perlu marah-marah.

Pasti tau kan bagaimana nabi kita mewanti-wanti: jangan marah, jangan marah, jangan marah. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya. Ya gitu deh kira-kira.

Jadi inget betapa dulu aku sering buat guru uring-uringan gara-gara nggak ngerjain tugas (klu ini mah kesalahan yang tak terampuni, aku sadar itu). tapi pecaya deh, saat ini, seiring waktu berjalan, aku masih suka lupa do’ain guru yang pernah marahin aku. Bukan dendam ato semacamnya, tapi emang gitu kenyataannya.

 

UN Jujur? Mei 3, 2008

Diarsipkan di bawah: Pendidikan, muslim — xsyan @ 5:07 pm
Tags: , ,

Crita bermula dari sms seseorang, nanyain: “apa efek dishonest (ketidakjujuran) dalam UAN?”. Yach… buat anak ingusan macem aku yang gak tau menau tentang sistem Pendidikan Nasional sedikit bingung juga ngejawabnya, jd jawabku sekenanya aja: “yang namanya nggak jujur, bagaimanapun, sesuatu yang diawali dengan ketidakjujuran akan berakhir dengan kesengsaraan, pa lagi ketidakjujuran itu nyangkut Ujian Nasional, bisa-bisa kesengsaraannya jg bakal jd sengsara tingkat nasional.” Hi…. Takut….. Jawaban yang reflek dan tanpa pikir panjang, tapi setelah dipikir-pikir pernyataan itu bisa dipertanggungjawabkan gak ya..? au ah lap.

Dilihat dari sisi siswa: wuich kaya’nya masa depannya bakal ancur kalo gak lulus UN, kalo aku jadi siswa juga gak bisa bayangin jika gak lulus, seakan-akan dunia runtuh kali ya…. “Serem” dan segala macem prasaan gak enak lainnya.

Dilihat dari sisi ortu: gimana nanti omongan tetangga jika punya anak yang gak bisa dibanggain, serasa menjadi ortu yang gak berguna (mungkin… soale aku sendiri jg belum pernah ngrasain jadi ortu, Cuma blagak sok tau aj) & masih banyak prasaan gak enak lainnya.

Dilihat dari sisi guru: image baiknya & profesionalisme-nya sebagai guru dipertaruhkan, jika murid-muridnya banyak yang gak lulus bisa jatuh tuch image yang udah telanjur tinggi (sok tau jg nih aku) & masih banyak lagi prasaan gak enak lainnya.

Dilihat dari sisi lembaga sekolah/madrasah: Jelas bakal dianggap gagal mencapai target jk banyak siswanya yang gak lulus, memalukan and bakal menurun juga target jumlah siswa baru yang akan masuk ntar, karena gak bisa ngeyakinin masyarakat bahwa nih lembaga emang baik buat ngedidik anak-anak mereka. Dan masih banyak prasaan gak enak lainnya (sok tau lg)

Dilihat dari sisi lain: sisi lain? Apa ya…? Ku juga gak tau lembaga apa yang bikin standart nilai kaya’ gitu, meski punya niat baik (meningkatkan kecerdasan bangsa, misalnya), tapi kaya’nya cara seperti itu seakan-akan memaksa pihak-pihak di atas untuk melakukan ketidakjujuran/kecurangan (dengan niat baik juga: meluluskan siswa, misalnya).

Tapi aneh, mana ada dua niat baik yang saling bertentangan?. Pasti ada yang gak beres, (niat baik yang realisasinya keluar dari jalur kebaikan, misalnya)

Dilihat dari sisi Tuhan: Aduh, sampi ke Tuhan segala… ya jelas lah, kita kan gak bisa lepas dari Tuhan. Tapi gimana cara melihat dari sisi Tuhan ya…? Tanyakan pada hati nurani kita, jika gak yakin akan hati sendiri, mungkin hati kita sudah kotor dengan debu-debu dosa, kita balik lagi pada Al-Qur’an dan Hadits sebagai way of life, dari sini kita tau bahwa Allah nggak suka orang-orang yang nggak jujur & curang, dan jika Allah udah nggak suka maka abislah kita, gak ada harapan lagi. Relakah kita mendapat ijazah tapi juga mendapat murka Allah

Relakah kita mendapat pujian manusia tapi juga mandapat laknat Allah

Relakah kita lulus Ujian Nasional tapi tak lulus Ujian Allah

Tanyakan pada hati nurani kita

Alangkah bagusnya ungkapan yang menggambarkan tentang kejujuran, sebagaimana bait berikut: Kejujuran adalah suatu keharusan bagimu

Walupun dirimu terbakar oleh panasnya janji

Carilah olehmu keridhaan al-Maula

Celakalah orang yang membuat murka Allah dan mencari ridho manusia